Rabu, 31 Juli 2013

A-Yo (Songfict)



Title                      : A-Yo
Genre                   : Drama, Romance
Length                  : Oneshoot
Rating                   : PG 13
Author                  : Jjongwol
Soundtrack           : A-Yo by SHINee (1st track in Lucifer Album)
Disclaimer             : My own with inspirations from A-Yo’s lyrics. All attempts to copy this fic without my                                    permission/credit will be counted as plagiarized
Cast                      : ______ as YOU (kindly replace with your Korean name)

                Sepasang kaki putih jenjang menapaki aspal abu-abu yang penuh dengan kerikil kasar, namun kaki telanjang itu tak sedikitpun berjengit penuh nyeri. Bisa kulihat dengan jelas melalui bayangan yang dipantulkan retina mataku, sepasang kaki tersebut berada di tanah di bawahku. Apakah itu kakiku? Sepertinya, iya.
                Kuangkat kepalaku dan kufokuskan pandangan lurus ke depan, berusaha menerka objek apa yang dapat mata rabun jauhku tangkap. Pertama, hanya buram yang dapat kuterka. Namun, semakin lama semuanya semakin jelas. Bukan pandangan mataku yang kacau, tapi keseluruhan tempat itu memang terasa lengang. Hanya terowongan gelap yang tersenyum dingin menyongsong kedatanganku.
                Aku begidik ngeri. Mendadak semua kemungkinan terburuk akan apa yang menanti di depan berkelebat dengan kecepatan turbo di kepalaku. Dengan segenap usaha yang kukerahkan, akhirnya berhasil kutepis semua imaji fiksi tanpa guna tersebut. Kuhela napas panjang dan kugumamkan sesuatu yang kupikir mampu membuatku lebih merasa ‘terisi’. Lagi-lagi hanya asa yang kuraih. Seperti sedang menjaring angin, semua gerakan ataupun suara yang kukeluarkan luluh lantak tak berdaya tanpa guna. Baru kali ini aku merasa sesepi ini, sesendiri ini, di tempat yang sama sekali asing buatku.
                Ketika indera-indera di tubuhku terpacu awas, dengan reflek kuputar tubuhku seratus delapan puluh derajat, menuju arah kemana punggungku menatap sebelumnya. Ajaib, ketika kurasakan sepoi angin membelai lembut pipiku, kulihat sosokmu berdiri tegap di kejauhan. Untuk sejenak aku ingin berlari tanpa alasan yang jelas, menghindarimu karena merasa takut akan sosok asingmu yang menatapku dari luar jarak jangkauku. Tapi kau tersenyum, menatapku hangat dan mengulurkan tangan kananmu ke depan, seakan kau sedang menjemputku. Tapi ke mana? Katakan kemana kau akan membawaku dalam setiap mimpi malam terkelamku.

Sometimes, you walk alone. You stop for a moment and take look around. When you are tired of the feeling of being alone, follow me then. Follow me.

***

                Suara berisik panjang yang bersahut-sahutan mau tak mau membuat kantukku terusir dan mataku terjaga. Kuapku spontan terbuka lebar ketika tanganku terentang lebih lebar dari bahu, menggeliat malas dari tempat tidur sebelum duduk terjaga sepenuhnya. Kuedarkan pandangan ke sekeliling ruangan dan aku terkikik geli ketika kudapati aku masih berada di zona ternyamanku di dunia, kamar mungil tempatku berdiam selama tujuh belas tahun lamanya.
                Masih dengan senyum yang terkembang di bibir, kumatikan alarm yang membangunkanku dari mimpi indah yang menyekapku semalam. Kuraih handuk dan seragam kebanggaan sekolahku, melangkah gontai menuju kamar mandi. Masih terekam betul di ingatanku, sesosok laki-laki yang selalu menghantuiku dalam kurun waktu terakhir ini, menghampiriku di dalam mimpi dan menawanku bersama dirinya untuk menghabiskan waktu-waktu terindah yang dapat ia tawarkan. Siapakah kau sebenarnya? Apakah kau malaikat pelindungku? Apa tujuanmu mengisi mimpiku adalah untuk memberi sebuah penghiburan atas hari tak menyenangkan yang seakan tak jemu menjadikan diriku sandera tetapnya?

***

                Tubuhku merosot dengan sengaja di atas bangku kayu rapuh tua, milik sekolah tinggi tingkat akhir tempatku menuntut ilmu. Kutatap lembar tes minat bakat super objektif di atas mejaku dengan tak bergairah. Di baris teratas, tertera dengan jelas skor yang kudapat untuk tes kecerdasan yang kukerjakan beberapa waktu lalu. Jelas hasilnya jauh dari kata memuaskan. Apa maksud kertas ini mengatakan IQ-ku di bawah 100? Di bawah garis normal manusia pada umumnya!
                Tiba-tiba saja suara gaduh dari langkah kaki puluhan siswa yang memaksa meringsek melewati kusen pintu kelas yang sempit menyentakkanku ke kesadaran. Entah apa yang membuat mereka semua rela berhimpitan seperti sekumpulan semut yang memaksa melewati sebuah celah sempit demi sesuap makanan. Dengan lunglai, kuberanjak dari tempatku, meremas kertas tes berengsek yang meresahkanku dan berlalu keluar kelas, mengikuti kawan-kawan yang menjadi pionir pergerakanku.
                Ketika kujejalkan tubuh mungilku ke dalam kerumunan, aku bisa melihat dengan jelas apa yang menjadi sumber kehebohan kolega seangkatanku, ternyata pengumuman hasil tes akhir semester ganjil. Kucari namaku dari urutan teratas hasil tes, namun tak kunjung kutemukan yang kucari. Merasa putus asa, kuputuskan mencarinya dari peringkat terbawah. Aku membekap mulutku dan berlari menangis ke atap sekolah ketika kutemukan namaku berada di peringkat angka tiga digit terakhir dari peringkat keseluruhan peserta tes.
                Aku berteriak frustasi, menghentak-hentakkan kakiku ke beton yang menyangga atap gedung sekolah, berharap usaha-usaha ini meringankan beban yang kini menindih pundakku. Bukan perasaan seperti hatiku terganjal sesuatu, melainkan rasa sakit yang terlampau sedang kurasakan dalam hati kecilku. Tanpa kusadari, butiran kristal menuruni tulang wajahku, menyusuri setiap lekuk pipi dengan warna rona merah muda yang menghiasi wajah bulatku.
                Ketika kuusap air mata dengan punggung tangan, kulihat kau berdiri di sana. Hanya berjarak dua langkah dari kakiku berpijak, ikut tersenyum pedih bersamaku. Berselang beberapa detik, kurasakan tanganmu memegang teguh bahuku, seperti sedang berusaha memberi dorongan penyemangat bagiku. Lalu kau menawarkanku bahumu sebagai sandaran, dan membiarkanku menangis sejadinya di dalam dekapan hangatmu. Tatkala mentari sore menyorot silau, kututup mataku menggunakan kedua telapak tanganku yang bebas. Kemudian kudapati, hanya diriku sendiri yang berdiri di atas atap.

During this breathless day. Even if there’s no place to rest, never become weak. No way, no way.
Even if there’s no one to understand your grieving heart, never give up your way.
Even if tears sometimes cover both your eyes, never become weak.

***

                Malam itu aku masih terjaga dengan selimut yang menutupi hingga leher. Dengan sepasang mata bengkakku, kumiringkan tubuhku dan kulihat dirimu berdiri bersedekap bersandar ke tembok di sebelah jendela. Menatapku dengan kedua mata bulatmu yang lucu.
                Kulirik jam dinding yang menunjukkan pukul dua dini hari, kemudian aku menggeleng dan mengerjap. Pastilah aku sedang berhalusinasi lagi. Namun tidak, karena sejurus kemudian kau duduk di tepi tempat tidurku, membelai puncak kepalaku dengan lembut dan menyenandungkan sebuah melodi indah untuk menemani tidurku dan memberi kantuk pada indera penglihatanku.

                When you can’t sleep, wait for another unfolding tomorrow. When this night passes, you’ll come to me.
                When you still can’t sleep because of many many thoughts, follow me then. Follow me.
               
                Even if it seems there’s no end to sleepless night, never give up your way.
When it’s tough, lean on the rhythm with our song for you. Bring it side to side, your sad tears. Side to side, all your pain. Tap, brush it off. Leave it to the rhythm, everyone a-yo. A-yo.

***

                Pagi itu aku sedang duduk di taman sekolah, dengan ditemani hawa dingin musim semi dan embun yang masih setia pada tempatnya berdiam, kugerak-gerakkan tubuhku untuk mengusir bosan dan kantuk yang menyerang. Entah menuju alam apa kau membawaku semalam, namun rasa letih yang menghampiriku masih terasa nyata bahkan ketika aku telah terjaga tatkala matahari merayap keluar dari peraduannya.
                Kuhela napas panjang dan menunduk, menatap sepasang sepatu kulit hitam yang kukenakan. Namun kutahu, aku sedang bermain dengan pikiranku. Merasa diriku telah dimanipulasi olehmu, lelaki malaikat penjagaku. Ketika bayanganmu yang sedang tersenyum terlintas begitu saja di kepalaku, segera kutepis jauh-jauh. Ku tak ingin sosok imaji tak nyata sepertimu membuatku terlena hingga menjadi sebuah ketergantungan terhadapmu.
                Entah sejak kapan kau mengisi hariku dan memberi segenap penghiburan atas lara, juga proteksi yang kubutuhkan. Namun kinilah saatnya aku mengenyahkan dirimu. Kau tak nyata dan jika aku terus mengkhayalkan akan kerinduanku terhadapmu, aku tahu aku akan berakhir di ruang praktek psikiatris. Kau tak nyata! Kau tak ada!!
               
                Person I trusted, I gave you my best. But your love that changes, like seasons do, bye, goodbye. Pretending like I didn’t know, I believed that you return back then.

                Kupegangi kedua sisi kepalaku dan kegelengkan dengan putus asa.
Kau bahkan tak nyata!!
                Aku terengah dan hampir menangis. Lagi-lagi teringat wejanganmu agar diriku berubah menjadi pribadi yang kuat dan tegar.
                Tidaaakk!! Kau harus enyah! Enyah!
                Aku berdumel kesal, dan ketika kuangkat pandanganku sembilan puluh derajat, kulihat sosokmu dari kejauhan menatapku heran. Seperti sedang mempertanyakan hal yang kuperbuat. Kau bahkan mengenakan seragam seperti yang siswa sekolahku kenakan. Kali ini khayalanku semakin menggila. Aku menggigit bibirku, membasahinya dengan lidah kemudian membuang wajah. Kau harus enyah!
                Aku tidak terlalu ingat apa yang terjadi setelahnya, namun satu hal yang kusadari pasti. Bahwa dirimu mendekat dan berdiri tepat di hadapanku. Akhirnya, aku berdiri dengan kedua kaki mungil yang bergetar berusaha menopang bobot tubuhku. Menatapmu yang sedang tersenyum di depan mataku.

                When it’s tough, think about who will greet you. As I wait for you to come, I’m smiling for you.

               Mendadak kau merentangkan kedua tanganmu, kemudian mendekapku hangat. Tiada guna bagiku untuk meronta, aku tahu candumu sudah mengikatku sedemikian rupa. Menyihirku sehingga aku tak mampu bernapas saat kurasakan kehadiranmu di sekitar. Segenap tenaga, aku berusaha mengisi asupan oksigen yang cukup ke dalam otak. Berharap usahaku dapat membuatku berpikir jernih kembali.
                Melalui bisikan hangatmu, kudengar bibirmu mengucap sebuah kata pertamamu bagiku, “Saranghae.”
                Seulas senyum termanis menghiasi bibir tipisku, dan ketika kau melepas dekapanmu, kulirik name tag yang tertera di sisi atas saku seragam biru tuamu, Lee Taemin.
                Kuangkat pandanganku agar aku mampu menatap wajah putih susu yang masih saja tersenyum penuh sayang. Tiba-tiba sebuah ingatan tentang seorang siswa pindahan baru yang baru saja migrasi dari kota lain melintas di pikiranku. Mungkinkah ia orangnya?
                Ketika kulihat seorang kawan sekelas menghampiri kami dan menyerukan namanya, kutahu malaikat pelindungku adalah sosok riil yang eksis.


FIN

Tidak ada komentar:

Posting Komentar