Title :
A-Yo
Genre :
Drama, Romance
Length :
Oneshoot
Rating :
PG 13
Author :
Jjongwol
Soundtrack :
A-Yo by SHINee (1st track in Lucifer Album)
Disclaimer : My own with inspirations from A-Yo’s lyrics. All attempts to copy this fic without my permission/credit will be counted as plagiarized
Cast :
______ as YOU (kindly replace
with your Korean name)
Sepasang
kaki putih jenjang menapaki aspal abu-abu yang penuh dengan kerikil kasar,
namun kaki telanjang itu tak sedikitpun berjengit penuh nyeri. Bisa kulihat
dengan jelas melalui bayangan yang dipantulkan retina mataku, sepasang kaki
tersebut berada di tanah di bawahku. Apakah itu kakiku? Sepertinya, iya.
Kuangkat
kepalaku dan kufokuskan pandangan lurus ke depan, berusaha menerka objek apa
yang dapat mata rabun jauhku tangkap. Pertama, hanya buram yang dapat kuterka. Namun, semakin lama semuanya
semakin jelas. Bukan pandangan mataku yang kacau, tapi keseluruhan tempat itu
memang terasa lengang. Hanya terowongan gelap yang tersenyum dingin menyongsong
kedatanganku.
Aku
begidik ngeri. Mendadak semua kemungkinan terburuk akan apa yang menanti di
depan berkelebat dengan kecepatan turbo di kepalaku. Dengan segenap usaha yang
kukerahkan, akhirnya berhasil kutepis semua imaji fiksi tanpa guna tersebut.
Kuhela napas panjang dan kugumamkan sesuatu yang kupikir mampu membuatku lebih
merasa ‘terisi’. Lagi-lagi hanya asa yang kuraih. Seperti sedang menjaring angin, semua gerakan
ataupun suara yang kukeluarkan luluh lantak tak berdaya tanpa guna. Baru kali
ini aku merasa sesepi ini, sesendiri ini, di tempat yang sama sekali asing
buatku.
Ketika
indera-indera di tubuhku terpacu awas, dengan reflek kuputar tubuhku seratus
delapan puluh derajat, menuju arah kemana punggungku menatap sebelumnya. Ajaib,
ketika kurasakan sepoi angin membelai lembut pipiku, kulihat sosokmu berdiri
tegap di kejauhan. Untuk sejenak aku ingin berlari tanpa alasan yang jelas,
menghindarimu karena merasa takut akan sosok asingmu yang menatapku dari luar
jarak jangkauku. Tapi kau tersenyum, menatapku hangat dan mengulurkan tangan
kananmu ke depan, seakan kau sedang menjemputku. Tapi ke mana? Katakan kemana
kau akan membawaku dalam setiap mimpi malam terkelamku.
Sometimes,
you walk alone. You stop for a moment and take look around. When you are tired
of the feeling of being alone, follow me then. Follow me.
***
Suara
berisik panjang yang bersahut-sahutan mau tak mau membuat kantukku terusir dan
mataku terjaga. Kuapku spontan terbuka lebar ketika tanganku terentang lebih
lebar dari bahu, menggeliat malas dari tempat tidur sebelum duduk terjaga
sepenuhnya. Kuedarkan pandangan ke sekeliling ruangan dan aku terkikik geli
ketika kudapati aku masih berada di zona ternyamanku di dunia, kamar mungil
tempatku berdiam selama tujuh belas tahun lamanya.
Masih
dengan senyum yang terkembang di bibir, kumatikan alarm yang membangunkanku
dari mimpi indah yang menyekapku semalam. Kuraih handuk dan seragam kebanggaan
sekolahku, melangkah gontai menuju kamar mandi. Masih terekam betul di
ingatanku, sesosok laki-laki yang selalu menghantuiku dalam kurun waktu
terakhir ini, menghampiriku di dalam mimpi dan menawanku bersama dirinya untuk
menghabiskan waktu-waktu terindah yang dapat ia tawarkan. Siapakah kau
sebenarnya? Apakah kau malaikat pelindungku? Apa tujuanmu mengisi mimpiku
adalah untuk memberi sebuah penghiburan atas hari tak menyenangkan yang seakan
tak jemu menjadikan diriku sandera tetapnya?
***
Tubuhku
merosot dengan sengaja di atas bangku kayu rapuh tua, milik sekolah tinggi
tingkat akhir tempatku menuntut ilmu. Kutatap lembar tes minat bakat super
objektif di atas mejaku dengan tak bergairah. Di baris teratas, tertera dengan
jelas skor yang kudapat untuk tes kecerdasan yang kukerjakan beberapa waktu
lalu. Jelas hasilnya jauh dari kata memuaskan. Apa maksud kertas ini mengatakan
IQ-ku di bawah 100? Di bawah garis normal manusia pada umumnya!
Tiba-tiba
saja suara gaduh dari langkah kaki puluhan siswa yang memaksa meringsek
melewati kusen pintu kelas yang sempit menyentakkanku ke kesadaran. Entah apa
yang membuat mereka semua rela berhimpitan seperti sekumpulan semut yang
memaksa melewati sebuah celah sempit demi sesuap makanan. Dengan lunglai,
kuberanjak dari tempatku, meremas kertas tes berengsek yang meresahkanku dan
berlalu keluar kelas, mengikuti kawan-kawan yang menjadi pionir pergerakanku.
Ketika
kujejalkan tubuh mungilku ke dalam kerumunan, aku bisa melihat dengan jelas apa
yang menjadi sumber kehebohan kolega seangkatanku, ternyata pengumuman hasil
tes akhir semester ganjil. Kucari namaku dari urutan teratas hasil tes, namun
tak kunjung kutemukan yang kucari. Merasa putus asa, kuputuskan mencarinya dari
peringkat terbawah. Aku membekap mulutku dan berlari menangis ke atap sekolah
ketika kutemukan namaku berada di peringkat angka tiga digit terakhir dari
peringkat keseluruhan peserta tes.
Aku
berteriak frustasi, menghentak-hentakkan kakiku ke beton yang menyangga atap
gedung sekolah, berharap usaha-usaha ini meringankan beban yang kini menindih
pundakku. Bukan perasaan seperti hatiku terganjal sesuatu, melainkan rasa sakit
yang terlampau sedang kurasakan dalam hati kecilku. Tanpa kusadari, butiran
kristal menuruni tulang wajahku, menyusuri setiap lekuk pipi dengan warna rona
merah muda yang menghiasi wajah bulatku.
Ketika
kuusap air mata dengan punggung tangan, kulihat kau berdiri di sana. Hanya
berjarak dua langkah dari kakiku berpijak, ikut tersenyum pedih bersamaku.
Berselang beberapa detik, kurasakan tanganmu memegang teguh bahuku, seperti
sedang berusaha memberi dorongan penyemangat bagiku. Lalu kau menawarkanku
bahumu sebagai sandaran, dan membiarkanku menangis sejadinya di dalam dekapan
hangatmu. Tatkala mentari sore menyorot silau, kututup mataku menggunakan kedua
telapak tanganku yang bebas. Kemudian kudapati, hanya diriku sendiri yang
berdiri di atas atap.
During
this breathless day. Even if there’s no place to rest, never become weak. No
way, no way.
Even
if there’s no one to understand your grieving heart, never give up your way.
Even
if tears sometimes cover both your eyes, never become weak.
***
Malam
itu aku masih terjaga dengan selimut yang menutupi hingga leher. Dengan
sepasang mata bengkakku, kumiringkan tubuhku dan kulihat dirimu berdiri
bersedekap bersandar ke tembok di sebelah jendela. Menatapku dengan kedua mata
bulatmu yang lucu.
Kulirik
jam dinding yang menunjukkan pukul dua dini hari, kemudian aku menggeleng dan
mengerjap. Pastilah aku sedang berhalusinasi lagi. Namun tidak, karena sejurus
kemudian kau duduk di tepi tempat tidurku, membelai puncak kepalaku dengan
lembut dan menyenandungkan sebuah melodi indah untuk menemani tidurku dan
memberi kantuk pada indera penglihatanku.
When you can’t sleep, wait for another
unfolding tomorrow. When this night passes, you’ll come to me.
When you still can’t sleep because of many many
thoughts, follow me then. Follow me.
Even if it seems there’s no end to sleepless night,
never give up your way.
When
it’s tough, lean on the rhythm with our song for you. Bring it side to side,
your sad tears. Side to side, all your pain. Tap, brush it off. Leave it to the
rhythm, everyone a-yo. A-yo.
***
Pagi itu
aku sedang duduk di taman sekolah, dengan ditemani hawa dingin musim semi dan
embun yang masih setia pada tempatnya berdiam, kugerak-gerakkan tubuhku untuk
mengusir bosan dan kantuk yang menyerang. Entah menuju alam apa kau membawaku
semalam, namun rasa letih yang menghampiriku masih terasa nyata bahkan ketika
aku telah terjaga tatkala matahari merayap keluar dari peraduannya.
Kuhela
napas panjang dan menunduk, menatap sepasang sepatu kulit hitam yang kukenakan.
Namun kutahu, aku sedang bermain dengan pikiranku. Merasa diriku telah
dimanipulasi olehmu, lelaki malaikat penjagaku. Ketika bayanganmu yang sedang
tersenyum terlintas begitu saja di kepalaku, segera kutepis jauh-jauh. Ku tak
ingin sosok imaji tak nyata sepertimu membuatku terlena hingga menjadi sebuah
ketergantungan terhadapmu.
Entah
sejak kapan kau mengisi hariku dan memberi segenap penghiburan atas lara, juga
proteksi yang kubutuhkan. Namun kinilah saatnya aku mengenyahkan dirimu. Kau
tak nyata dan jika aku terus mengkhayalkan akan kerinduanku terhadapmu, aku
tahu aku akan berakhir di ruang praktek psikiatris. Kau tak nyata! Kau tak
ada!!
Person I trusted, I gave you my best. But
your love that changes, like seasons do, bye, goodbye. Pretending like I didn’t
know, I believed that you return back then.
Kupegangi
kedua sisi kepalaku dan kegelengkan dengan putus asa.
Kau bahkan tak nyata!!
Aku
terengah dan hampir menangis. Lagi-lagi teringat wejanganmu agar diriku berubah
menjadi pribadi yang kuat dan tegar.
Tidaaakk!!
Kau harus enyah! Enyah!
Aku
berdumel kesal, dan ketika kuangkat pandanganku sembilan puluh derajat, kulihat
sosokmu dari kejauhan menatapku heran. Seperti sedang mempertanyakan hal yang
kuperbuat. Kau bahkan mengenakan seragam seperti yang siswa sekolahku kenakan.
Kali ini khayalanku semakin menggila. Aku menggigit bibirku, membasahinya
dengan lidah kemudian membuang wajah. Kau harus enyah!
Aku
tidak terlalu ingat apa yang terjadi setelahnya, namun satu hal yang kusadari
pasti. Bahwa dirimu mendekat dan berdiri tepat di hadapanku. Akhirnya, aku
berdiri dengan kedua kaki mungil yang bergetar berusaha menopang bobot tubuhku.
Menatapmu yang sedang tersenyum di depan mataku.
When it’s tough, think about who will greet
you. As I wait for you to come, I’m smiling for you.
Mendadak
kau merentangkan kedua tanganmu, kemudian mendekapku hangat. Tiada guna bagiku
untuk meronta, aku tahu candumu sudah mengikatku sedemikian rupa. Menyihirku
sehingga aku tak mampu bernapas saat kurasakan kehadiranmu di sekitar. Segenap
tenaga, aku berusaha mengisi asupan
oksigen yang cukup ke dalam otak. Berharap usahaku dapat membuatku
berpikir jernih kembali.
Melalui
bisikan hangatmu, kudengar bibirmu mengucap sebuah kata pertamamu bagiku,
“Saranghae.”
Seulas
senyum termanis menghiasi bibir tipisku, dan ketika kau melepas dekapanmu,
kulirik name tag yang tertera di sisi atas saku seragam biru tuamu, Lee Taemin.
Kuangkat
pandanganku agar aku mampu menatap wajah putih susu yang masih saja tersenyum
penuh sayang. Tiba-tiba sebuah ingatan tentang seorang siswa pindahan baru yang
baru saja migrasi dari kota lain melintas di pikiranku. Mungkinkah ia orangnya?
Ketika
kulihat seorang kawan sekelas menghampiri kami dan menyerukan namanya, kutahu
malaikat pelindungku adalah sosok riil yang eksis.
FIN